TPB adalah masa terbaik bagi kisah pengagumanku terhadap Adis. Saat ini kadang aku bisa melihatnya tiap hari, akan tetapi tak jarang pula seminggu berlalu aku tak melihat wajah manisnya.
Sekarang, disaat pembelajaran di TPB (Tingkat Pembantaian Bersama) akan segera berakhir, jiwa ini mulai merasakan tanda-tanda kehilangan. Aku merasa di fakultas nanti aku akan sangat jarang bertemu dengannya. Apalagi kita beda fakultas.
Boleh pindah departemen? Hhe
Entah tanda-tanda ini nyata atau tidak, tapi itulah yang kurasakan sekarang. Mungkin hanya kehilangan akan dia yang akan menjadi teman di hari-hari libur UAS-ku nanti.
Masa tak terlupakan saat melihatnya tertawa, masa terindah saat tahu ternyata dia mau meramahkan hatinya menerimaku sebagai pengagumnya, dan masa-masa lain yang selalu membuatku bersemangat,
Akankah nanti tak akan ada masa-masa itu lagi?
Ada sedikit ketakutan pada saat hatiku berbisik dalam lirih,
Inilah akhir kisah pengagumanku terhadapnya.
Akan terasa sulit jika ingin dilanjutkan.
Sisi lain hatiku berontak,
grey, apakah perjuanganmu hanya sampai sini? Padam hanya karena beda fakultas?
Nanti dulu,,
perjuangan?
Apa maksudnya?
Tak pernah ada perjuangan disini, kalau ada, berarti harus ada akhirnya, baik itu sebuah kemenangan, kemerdekaan atau apalah yang akan membayar semua bentuk pengorbanan kita dulu.
Tapi dalam hal ini aku tak mengharapkan apapun terhadap semua yang pernah aku lakukan selama menjadi pengagumnya.
Dapat melihatnya tersenyum setiap hari sudah lebih dari cukup bagiku.
Lanjutkan! =)
Kamis, 25 Juni 2009
Selasa, 16 Juni 2009
Adis = Pelangi di Malam Hari (unthinkable)
Apa saja yang membuatmu bahagia
Telah ku lakukan untukmu
Demi mengharapkan cintamu
Kini ku bagai menanti datangnya pelangi di malam hari . .
Yang sepi . .
Ku sadari yang telah ku lakukan
Membuat hatimu terpenjara
Dan tak kuasa membukanya
Walau seluruh dayaku ingin bersamamu
Kunci hatimu patah tak terganti
Cinta tak harus memiliki
Tak harus menyakiti
Cintaku tak harus mati
Cinta tak harus bersama
Tak harus menyentuhmu
Membiarkan dirimu dalam bahagia
Walau tak disampingku
Itu ketulusan cintaku
***
Beberapa hari kebelakang lagu Vidi diatas selalu menjadi teman terbaik di malam sepi yang kadang tak bersahabat. Liriknya membuat hati ini kembali sedikit tenang dan sadar bahwa cinta memang tak harus memiliki. Tak ada alasan untuk dipaksakan. Apalah arti memiliki jika hanya untuk menyakiti orang yang kita cintai. Bukankah kebahagiaanya jauh lebih penting. Jika aku bisa, aku akan minta tolong pada Sang Maha Pembolak-balik Hati agar perasaan ini jatuh bukan pada orang yang tak pantas jika aku jadi miliknya.
Telah ku lakukan untukmu
Demi mengharapkan cintamu
Kini ku bagai menanti datangnya pelangi di malam hari . .
Yang sepi . .
Ku sadari yang telah ku lakukan
Membuat hatimu terpenjara
Dan tak kuasa membukanya
Walau seluruh dayaku ingin bersamamu
Kunci hatimu patah tak terganti
Cinta tak harus memiliki
Tak harus menyakiti
Cintaku tak harus mati
Cinta tak harus bersama
Tak harus menyentuhmu
Membiarkan dirimu dalam bahagia
Walau tak disampingku
Itu ketulusan cintaku
***
Beberapa hari kebelakang lagu Vidi diatas selalu menjadi teman terbaik di malam sepi yang kadang tak bersahabat. Liriknya membuat hati ini kembali sedikit tenang dan sadar bahwa cinta memang tak harus memiliki. Tak ada alasan untuk dipaksakan. Apalah arti memiliki jika hanya untuk menyakiti orang yang kita cintai. Bukankah kebahagiaanya jauh lebih penting. Jika aku bisa, aku akan minta tolong pada Sang Maha Pembolak-balik Hati agar perasaan ini jatuh bukan pada orang yang tak pantas jika aku jadi miliknya.
Kamis, 11 Juni 2009
Kadang aku lebih tak berguna dari apapun
Tadi malam kira-kira jam 12 kurang sedikit, Adis menelponku. Dengan begitu munafik tak ku angkat telponnya.
Jujur, bukan aku tak mau mengangkatnya, tapi aku benar-benar belum siap. Belum siap berbicara dengan orang yang selalu membuat hidupku bersemangat.
Tiga kali handphone-ku berdering di malam yang hangat itu, tiga kali pula aku merasakan ketakutan Adis akan marah padaku.
Sebelumnya aku tak tahu itu nomor siapa, tanpa nama. Tapi tiba-tiba pikiranku langsung teringat Adis. Mungkin karena hanya Adis lah yang selalu ada dalam pikiranku. Haha.
Tanpa basa-basi untuk membuktikan feeling-ku, ku sms nomor tak bernama itu.
Siapa? Adis?
Balasannya ialah,
"Iya,. Knpa ko ga diangkt,.? Angkt aja,?"
Ya Tuhan, ternyata benar dia.
Bagaimana ini? Akhirnya aku kembali berkata melalui sms. Intinya aku minta maaf, aku benar-benar belum siap diketahui olehnya.
Lama kutunggu balasan darinya.
Kira-kira 30 menit berlalu ia tak kunjung membalasnya.
Kupikir mungkin ia telah larut dalam pangkuan mimpinya. Oleh karena itu pula aku pun beranjak tidur dengan masih ada banyak tanda tanya dalam kepala.
Kenapa Adis tiba-tiba menelponku?
Apakah dia sepenasaran itu terhadap seorang grey?
Atau ada alasan lain yang aku tak tahu?
Aku berharap mimpiku akan menjawab semua pertanyaan itu.
***
Pagi hari saat aku bangun, tanpa mimpi dan jawaban akan semua pertanyaan itu, kulihat nama indahnya tertera di handphone-ku. Adiz. Ternyata semalam dia membalasnya, kulihat waktu penerimaan tepat pukul 01.27, artinya satu setengah jam setelah aku mengirim sms permohonan maaf padanya.
Tanpa basa-basi, ku baca sms itu.
"Adis td btuh tmen crita,.. Tp, grey klhtn'nya emank ga mw nerima twran prtmanan dis'ya... :-|
ya udh, ga apa2 ko.. Asal grey tw Adis hr ni sdih bngtz..."
Selesai ku baca, aku hanya bisa berteriak dalam hati bersama rasa bersalah yang begitu besar.
Arrrrrrrrrrrrrrrrrrggggghhh!!!!!
Adis sedih?? Bahkan dia bilang sedih "bngtz"?
Mungkin dia ingin berbagi sedikit dukanya dengan menelponku, tapi yang aku lakukan malah akan membuatnya semakin sedih, dan jauh lebih terluka.
Pengagum macam apa aku ini??
B***sh*t buat grey.
Aku rasa aku hanya bisa mengganggunya tanpa bisa memberikan timbal balik apapun, bahkan ketika dia meminta bahu-ku untuk bersandar.
Seandainya dia cerita melalui sms, ku usahakan ku layani sampai kapanpun ia mau mengakhiri ceritanya.
Sekali lagi aku benar-benar minta maaf.
Maukah adis menerima permintaan maaf grey? =)
***
Tiba-tiba ada desakan dalam diri yang membuatku nekat untuk menelponnya. Desakan dari rasa bersalah yang terlalu besar, sampai-sampai aku hampir tak peduli dengan semua penyamaranku.
Cukup lama aku berbicara dengannya.
Akhirnya aku bertanya,
"Semalam sedih kenapa Dis?"
Lebih dari satu kali aku ajukan pertanyaan itu, dan jawabannya selalu sama,
"gapapa kok, sekarang dah ga sedih lagi."
Dia pun mengatakan kalau dia sekedar ingin menangis tadi malam.
Mendengar jawabannya itu membuatku tak berniat bertanya lebih jauh lagi.
Sampai aku menulis di blog inipun aku belum tahu apa yang membuatnya sedih.
Yang terpenting adis jangan sedih lagi ya?! Oke, oke,,
Aku senang bisa mendengar langsung suara anehnya, walaupun kadang dia tak jelas. Haha.
NB: Untuk seseorang yang adis pilih, plis, jangan pernah mengurangi rasa sayangmu untuknya, karena aku yakin Adis tak akan melakukan itu padamu. ;)
Menatap langkahmu, meratapi kisah hidupmu . .
Terlukis jelas bahwa hatimu . .
Anugerah terindah yang (belum) pernah kumiliki.
Jujur, bukan aku tak mau mengangkatnya, tapi aku benar-benar belum siap. Belum siap berbicara dengan orang yang selalu membuat hidupku bersemangat.
Tiga kali handphone-ku berdering di malam yang hangat itu, tiga kali pula aku merasakan ketakutan Adis akan marah padaku.
Sebelumnya aku tak tahu itu nomor siapa, tanpa nama. Tapi tiba-tiba pikiranku langsung teringat Adis. Mungkin karena hanya Adis lah yang selalu ada dalam pikiranku. Haha.
Tanpa basa-basi untuk membuktikan feeling-ku, ku sms nomor tak bernama itu.
Siapa? Adis?
Balasannya ialah,
"Iya,. Knpa ko ga diangkt,.? Angkt aja,?"
Ya Tuhan, ternyata benar dia.
Bagaimana ini? Akhirnya aku kembali berkata melalui sms. Intinya aku minta maaf, aku benar-benar belum siap diketahui olehnya.
Lama kutunggu balasan darinya.
Kira-kira 30 menit berlalu ia tak kunjung membalasnya.
Kupikir mungkin ia telah larut dalam pangkuan mimpinya. Oleh karena itu pula aku pun beranjak tidur dengan masih ada banyak tanda tanya dalam kepala.
Kenapa Adis tiba-tiba menelponku?
Apakah dia sepenasaran itu terhadap seorang grey?
Atau ada alasan lain yang aku tak tahu?
Aku berharap mimpiku akan menjawab semua pertanyaan itu.
***
Pagi hari saat aku bangun, tanpa mimpi dan jawaban akan semua pertanyaan itu, kulihat nama indahnya tertera di handphone-ku. Adiz. Ternyata semalam dia membalasnya, kulihat waktu penerimaan tepat pukul 01.27, artinya satu setengah jam setelah aku mengirim sms permohonan maaf padanya.
Tanpa basa-basi, ku baca sms itu.
"Adis td btuh tmen crita,.. Tp, grey klhtn'nya emank ga mw nerima twran prtmanan dis'ya... :-|
ya udh, ga apa2 ko.. Asal grey tw Adis hr ni sdih bngtz..."
Selesai ku baca, aku hanya bisa berteriak dalam hati bersama rasa bersalah yang begitu besar.
Arrrrrrrrrrrrrrrrrrggggghhh!!!!!
Adis sedih?? Bahkan dia bilang sedih "bngtz"?
Mungkin dia ingin berbagi sedikit dukanya dengan menelponku, tapi yang aku lakukan malah akan membuatnya semakin sedih, dan jauh lebih terluka.
Pengagum macam apa aku ini??
B***sh*t buat grey.
Aku rasa aku hanya bisa mengganggunya tanpa bisa memberikan timbal balik apapun, bahkan ketika dia meminta bahu-ku untuk bersandar.
Seandainya dia cerita melalui sms, ku usahakan ku layani sampai kapanpun ia mau mengakhiri ceritanya.
Sekali lagi aku benar-benar minta maaf.
Maukah adis menerima permintaan maaf grey? =)
***
Tiba-tiba ada desakan dalam diri yang membuatku nekat untuk menelponnya. Desakan dari rasa bersalah yang terlalu besar, sampai-sampai aku hampir tak peduli dengan semua penyamaranku.
Cukup lama aku berbicara dengannya.
Akhirnya aku bertanya,
"Semalam sedih kenapa Dis?"
Lebih dari satu kali aku ajukan pertanyaan itu, dan jawabannya selalu sama,
"gapapa kok, sekarang dah ga sedih lagi."
Dia pun mengatakan kalau dia sekedar ingin menangis tadi malam.
Mendengar jawabannya itu membuatku tak berniat bertanya lebih jauh lagi.
Sampai aku menulis di blog inipun aku belum tahu apa yang membuatnya sedih.
Yang terpenting adis jangan sedih lagi ya?! Oke, oke,,
Aku senang bisa mendengar langsung suara anehnya, walaupun kadang dia tak jelas. Haha.
NB: Untuk seseorang yang adis pilih, plis, jangan pernah mengurangi rasa sayangmu untuknya, karena aku yakin Adis tak akan melakukan itu padamu. ;)
Menatap langkahmu, meratapi kisah hidupmu . .
Terlukis jelas bahwa hatimu . .
Anugerah terindah yang (belum) pernah kumiliki.
Senin, 08 Juni 2009
Aku hanya sebuah fatamorgana
Saat Adis sakit, apa yang bisa aku lakukan untuknya?
Tak ada.
Bukan aku tak mau melakukan apa-apa, tapi lebih ke "tak bisa" berbuat apa-apa dengan keterbatasan posisiku saat ini. Maafkan aku.
Afterall, aku akan selalu mengirim doa terbaikku untuknya. Tanpa ia minta sekalipun.
Semoga cepat sembuh untuk orang yang selalu membuat jantungku berdetak tak biasa.
Jujur, sebelum aku berdamai dengan hatiku sendiri, selalu sedikit "tersedak" saat melihat Adis bersama yang lain. Entah itu teman-temannya, atau kekasihnya.
Mungkin saat ini memang aku sudah jarang "tersedak" lagi, alasannya bukan gara-gara perasaanku terhadapnya berkurang, tapi sekarang aku telah tersadarkan kalau "tersedak" hanya akan membuatku merasakan sakit sendiri. Dimana tak seorang pun tau apalagi ikut merasakan semua rasaku untuk Adis, dan bagaimana sakitnya itu disaat tak terbalaskan. Haha.
Bagiku terlalu abstrak untuk dicintai Adis, dan terlalu berharga memiliki hanya untuk menyakitinya.
Disaat aku bilang padanya aku hanya ingin dia tahu aku sebatas fatamorgana, jawaban yang ia berikan ialah,
"Emank mw cman sbts ftamorgana,.? :-|"
Sebenarnya jauh dalam lubuk hati ini, tentu saja sungguh-sungguh aku tak mengingikannya. Apalah arti fatamorgana? Meskipun indah, tapi hanya sebuah ketidakjujuran.
Cukup ia menggambarkan wujudku sebagaimana ia ingin menggambar. Biarkan aku yang di pikirannya adalah apa yang ia pikirkan.
Tapi aku juga tak mau termasuk orang yang munafik dengan mengatakan kalau aku tak punya ego sedikitpun untuk ingin memiliki Adis.
Tapi persoalannya apa Allah merestui jika aku jadi orang yang Adis cintai?
Apa Adis akan selalu bahagia bila aku yang ada di sampingnya?
Apa aku tak akan pernah menorehkan duri di setiap jejak-jejak cintaku yang ku ukir dalam hidupnya?
Jika ke semua pertanyaan itu jawabannya adalah TIDAK, maka jauh lebih baik aku kembali jadikan Adis hanya sebuah siluet.
Biarpun hanya menjadi pemuja rahasianya, setidaknya aku bisa menikmati Adis dari tiap sisi tergelap dalam hidupku.
Harapku semoga ini bukan tulisan terakhirku untuknya.
Tak ada.
Bukan aku tak mau melakukan apa-apa, tapi lebih ke "tak bisa" berbuat apa-apa dengan keterbatasan posisiku saat ini. Maafkan aku.
Afterall, aku akan selalu mengirim doa terbaikku untuknya. Tanpa ia minta sekalipun.
Semoga cepat sembuh untuk orang yang selalu membuat jantungku berdetak tak biasa.
Jujur, sebelum aku berdamai dengan hatiku sendiri, selalu sedikit "tersedak" saat melihat Adis bersama yang lain. Entah itu teman-temannya, atau kekasihnya.
Mungkin saat ini memang aku sudah jarang "tersedak" lagi, alasannya bukan gara-gara perasaanku terhadapnya berkurang, tapi sekarang aku telah tersadarkan kalau "tersedak" hanya akan membuatku merasakan sakit sendiri. Dimana tak seorang pun tau apalagi ikut merasakan semua rasaku untuk Adis, dan bagaimana sakitnya itu disaat tak terbalaskan. Haha.
Bagiku terlalu abstrak untuk dicintai Adis, dan terlalu berharga memiliki hanya untuk menyakitinya.
Disaat aku bilang padanya aku hanya ingin dia tahu aku sebatas fatamorgana, jawaban yang ia berikan ialah,
"Emank mw cman sbts ftamorgana,.? :-|"
Sebenarnya jauh dalam lubuk hati ini, tentu saja sungguh-sungguh aku tak mengingikannya. Apalah arti fatamorgana? Meskipun indah, tapi hanya sebuah ketidakjujuran.
Cukup ia menggambarkan wujudku sebagaimana ia ingin menggambar. Biarkan aku yang di pikirannya adalah apa yang ia pikirkan.
Tapi aku juga tak mau termasuk orang yang munafik dengan mengatakan kalau aku tak punya ego sedikitpun untuk ingin memiliki Adis.
Tapi persoalannya apa Allah merestui jika aku jadi orang yang Adis cintai?
Apa Adis akan selalu bahagia bila aku yang ada di sampingnya?
Apa aku tak akan pernah menorehkan duri di setiap jejak-jejak cintaku yang ku ukir dalam hidupnya?
Jika ke semua pertanyaan itu jawabannya adalah TIDAK, maka jauh lebih baik aku kembali jadikan Adis hanya sebuah siluet.
Biarpun hanya menjadi pemuja rahasianya, setidaknya aku bisa menikmati Adis dari tiap sisi tergelap dalam hidupku.
Harapku semoga ini bukan tulisan terakhirku untuknya.
Kamis, 04 Juni 2009
Perkenalan dari Grey
E.R Adistya . .
Nama yang bagus bukan?
Semua orang aku yakin akan sependapat denganku apalagi sudah melihat orangnya.
Ini adalah blog yang aku khususkan bercerita tentang dia, tentang perasaanku yang akan sangat sulit terbalaskan. Sangat sulit.
Tak ada waktu yang terukur kapan aku akan mengisi blog ini, Tiap hari? Tiap Minggu? Tiap Bulan? Atau ini tulisan terakhirku untuknya?
Entahlah . .
Mungkin sampai dia ada di sampingku! Haha
Adis. Begitu aku memanggilnya, tak beda dengan bagaimana orang-orang yang baru kenal dia memanggilnya. Karena memang diriku bukanlah orang spesial dimata Adis, aku sama asingnya dengan yang lain.
Sebelumnya, siapa Adis dan siapa Grey(aku)?
Adis adalah mahasiswi asal Kalimantan yang multitalenta.
Sedangkan Grey hanyalah salah satu dari sekian banyak pengagum Adis yang hanya bisa merangkai kata-kata melalui blog ini untuk sekedar menyalurkan isi hatinya. Afterall Grey tak akan pernah mendapat perhatian lebih darinya. Sebagian besar perhatiannya telah ia curahkan untuk keluarga, teman-teman, dan tentu saja orang yang paling beruntung,, kekasihnya.
Pesan moral yang begitu ketara terangkat disini ialah
"Bukankah cinta itu tak harus memiliki?"
Terdengar klasik memang, tapi itulah kenyataan yang sekarang terjadi padaku. Aku benar-benar telah berusaha berdamai dengan hatiku sendiri untuk menyimpan Adis hanya dalam bentuk siluet, karena aku tau hanya sebuah kebodohan mengharapkan Adis ada disampingku dalam keadaan nyata.
Memang bukanlah keputusan yang bijak mencoba merebut Adis dari kekasihnya, orang itu adalah pilihannya, dan tentu saja aku harus menghormati keputusannya itu.
Setiap teringat Adis seperti ada pengisi tenaga baru untukku jalani hidup. Meskipun sebenarnya aku tak pernah dekat dengannya, tapi bagiku telah mengenal seorang Adis adalah sebuah anugerah.
Kadang aku iri, beruntung sekali pacarnya itu, disaat orang lain hanya bisa memandang Adis dengan segala rasa yang dipendam dalam hati, dia bisa memiliki Adis seutuhnya dan bisa dicintai Adis sepenuhnya.
Aku hanya bisa berdoa semoga tak ada satu bagian kecilpun dari hati Adis yang tersakiti, dan aku akan selalu berharap yang terbaik untuk jalan cintanya. Buatku tak jadi masalah siapa yang akan menjadi pilihannya, yang terpenting adalah orang itu senantiasa menerima Adis apa adanya.
Buat Adis teruslah berjalan mencapai apa yang ingin kamu capai, jangan pernah mencoba hiraukan aku yang mungkin hanya akan membuat langkahmu terhenti.
Nama yang bagus bukan?
Semua orang aku yakin akan sependapat denganku apalagi sudah melihat orangnya.
Ini adalah blog yang aku khususkan bercerita tentang dia, tentang perasaanku yang akan sangat sulit terbalaskan. Sangat sulit.
Tak ada waktu yang terukur kapan aku akan mengisi blog ini, Tiap hari? Tiap Minggu? Tiap Bulan? Atau ini tulisan terakhirku untuknya?
Entahlah . .
Mungkin sampai dia ada di sampingku! Haha
Adis. Begitu aku memanggilnya, tak beda dengan bagaimana orang-orang yang baru kenal dia memanggilnya. Karena memang diriku bukanlah orang spesial dimata Adis, aku sama asingnya dengan yang lain.
Sebelumnya, siapa Adis dan siapa Grey(aku)?
Adis adalah mahasiswi asal Kalimantan yang multitalenta.
Sedangkan Grey hanyalah salah satu dari sekian banyak pengagum Adis yang hanya bisa merangkai kata-kata melalui blog ini untuk sekedar menyalurkan isi hatinya. Afterall Grey tak akan pernah mendapat perhatian lebih darinya. Sebagian besar perhatiannya telah ia curahkan untuk keluarga, teman-teman, dan tentu saja orang yang paling beruntung,, kekasihnya.
Pesan moral yang begitu ketara terangkat disini ialah
"Bukankah cinta itu tak harus memiliki?"
Terdengar klasik memang, tapi itulah kenyataan yang sekarang terjadi padaku. Aku benar-benar telah berusaha berdamai dengan hatiku sendiri untuk menyimpan Adis hanya dalam bentuk siluet, karena aku tau hanya sebuah kebodohan mengharapkan Adis ada disampingku dalam keadaan nyata.
Memang bukanlah keputusan yang bijak mencoba merebut Adis dari kekasihnya, orang itu adalah pilihannya, dan tentu saja aku harus menghormati keputusannya itu.
Setiap teringat Adis seperti ada pengisi tenaga baru untukku jalani hidup. Meskipun sebenarnya aku tak pernah dekat dengannya, tapi bagiku telah mengenal seorang Adis adalah sebuah anugerah.
Kadang aku iri, beruntung sekali pacarnya itu, disaat orang lain hanya bisa memandang Adis dengan segala rasa yang dipendam dalam hati, dia bisa memiliki Adis seutuhnya dan bisa dicintai Adis sepenuhnya.
Aku hanya bisa berdoa semoga tak ada satu bagian kecilpun dari hati Adis yang tersakiti, dan aku akan selalu berharap yang terbaik untuk jalan cintanya. Buatku tak jadi masalah siapa yang akan menjadi pilihannya, yang terpenting adalah orang itu senantiasa menerima Adis apa adanya.
Buat Adis teruslah berjalan mencapai apa yang ingin kamu capai, jangan pernah mencoba hiraukan aku yang mungkin hanya akan membuat langkahmu terhenti.
Langganan:
Postingan (Atom)
