Tadi malam kira-kira jam 12 kurang sedikit, Adis menelponku. Dengan begitu munafik tak ku angkat telponnya.
Jujur, bukan aku tak mau mengangkatnya, tapi aku benar-benar belum siap. Belum siap berbicara dengan orang yang selalu membuat hidupku bersemangat.
Tiga kali handphone-ku berdering di malam yang hangat itu, tiga kali pula aku merasakan ketakutan Adis akan marah padaku.
Sebelumnya aku tak tahu itu nomor siapa, tanpa nama. Tapi tiba-tiba pikiranku langsung teringat Adis. Mungkin karena hanya Adis lah yang selalu ada dalam pikiranku. Haha.
Tanpa basa-basi untuk membuktikan feeling-ku, ku sms nomor tak bernama itu.
Siapa? Adis?
Balasannya ialah,
"Iya,. Knpa ko ga diangkt,.? Angkt aja,?"
Ya Tuhan, ternyata benar dia.
Bagaimana ini? Akhirnya aku kembali berkata melalui sms. Intinya aku minta maaf, aku benar-benar belum siap diketahui olehnya.
Lama kutunggu balasan darinya.
Kira-kira 30 menit berlalu ia tak kunjung membalasnya.
Kupikir mungkin ia telah larut dalam pangkuan mimpinya. Oleh karena itu pula aku pun beranjak tidur dengan masih ada banyak tanda tanya dalam kepala.
Kenapa Adis tiba-tiba menelponku?
Apakah dia sepenasaran itu terhadap seorang grey?
Atau ada alasan lain yang aku tak tahu?
Aku berharap mimpiku akan menjawab semua pertanyaan itu.
***
Pagi hari saat aku bangun, tanpa mimpi dan jawaban akan semua pertanyaan itu, kulihat nama indahnya tertera di handphone-ku. Adiz. Ternyata semalam dia membalasnya, kulihat waktu penerimaan tepat pukul 01.27, artinya satu setengah jam setelah aku mengirim sms permohonan maaf padanya.
Tanpa basa-basi, ku baca sms itu.
"Adis td btuh tmen crita,.. Tp, grey klhtn'nya emank ga mw nerima twran prtmanan dis'ya... :-|
ya udh, ga apa2 ko.. Asal grey tw Adis hr ni sdih bngtz..."
Selesai ku baca, aku hanya bisa berteriak dalam hati bersama rasa bersalah yang begitu besar.
Arrrrrrrrrrrrrrrrrrggggghhh!!!!!
Adis sedih?? Bahkan dia bilang sedih "bngtz"?
Mungkin dia ingin berbagi sedikit dukanya dengan menelponku, tapi yang aku lakukan malah akan membuatnya semakin sedih, dan jauh lebih terluka.
Pengagum macam apa aku ini??
B***sh*t buat grey.
Aku rasa aku hanya bisa mengganggunya tanpa bisa memberikan timbal balik apapun, bahkan ketika dia meminta bahu-ku untuk bersandar.
Seandainya dia cerita melalui sms, ku usahakan ku layani sampai kapanpun ia mau mengakhiri ceritanya.
Sekali lagi aku benar-benar minta maaf.
Maukah adis menerima permintaan maaf grey? =)
***
Tiba-tiba ada desakan dalam diri yang membuatku nekat untuk menelponnya. Desakan dari rasa bersalah yang terlalu besar, sampai-sampai aku hampir tak peduli dengan semua penyamaranku.
Cukup lama aku berbicara dengannya.
Akhirnya aku bertanya,
"Semalam sedih kenapa Dis?"
Lebih dari satu kali aku ajukan pertanyaan itu, dan jawabannya selalu sama,
"gapapa kok, sekarang dah ga sedih lagi."
Dia pun mengatakan kalau dia sekedar ingin menangis tadi malam.
Mendengar jawabannya itu membuatku tak berniat bertanya lebih jauh lagi.
Sampai aku menulis di blog inipun aku belum tahu apa yang membuatnya sedih.
Yang terpenting adis jangan sedih lagi ya?! Oke, oke,,
Aku senang bisa mendengar langsung suara anehnya, walaupun kadang dia tak jelas. Haha.
NB: Untuk seseorang yang adis pilih, plis, jangan pernah mengurangi rasa sayangmu untuknya, karena aku yakin Adis tak akan melakukan itu padamu. ;)
Menatap langkahmu, meratapi kisah hidupmu . .
Terlukis jelas bahwa hatimu . .
Anugerah terindah yang (belum) pernah kumiliki.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar