Sabtu, 18 Juli 2009

Kembali kata dari seorang abu-abu

Bila nanti bulan membara dan pijar mataku redup tiba-tiba, tolong tancapkan belati di dada dan alirkan darahku pada fatamorgana.

Nice words.
Akan selalu ku ingat kata-kata itu, tapi aku tak pernah mengharapkan matamu redup segera hanya untuk mendapatkan alirah darah itu.

Andai kau masih ingat, dipostingan pertama aku pernah berucap,
"jangan pernah hiraukan seorang grey, karena itu hanya akan membuat langkahmu terhenti".

Tulisanku di blog inipun hanya "sekedar mengungkapkan rasa di sudut asa". Tak ada maksud lain. Kuingin kau tak terpengaruh sedikit pun, dimana senantiasa menjadi adis yang mencintai sejuk dan merindukan riang.

Ku biarkan tulisan demi tulisan mengalir tak ubahnya mata air. Bening dan berirama.

Tapi bukankah seluruh tetesan dan aliran air dimanapun itu pasti akan menemukan muaranya?

Lantas bagaimana ceritaku ini akan bermuara?
Atau.. tak pernah terdapat episode akhir?

Time is the answer.

Aku jelas bukan pangeran berkuda putih atau pahlawan berbentuk apapun, aku hanya seorang abu-abu sang pemilik hati yang belum lengkap.

Kisah pencarian potongan hati ini mungkin adalah jalan yang tak berujung atau cerita yang tak pernah selesai. Meskipun begitu ku harap dalam setiap langkah-langkahnya akan selalu terkarang melodi yang indah.

Ingat. Jika suatu ketika kamu merasa lelah dalam perjalanan hidup dan cintamu, 'mata air' ini selalu ada untuk kau pakai kapanpun kau butuhkan. =)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar